Curhat

Saran Buat Gus Mul, Belajarlah dari Nabi Yusuf

Kang Parid
Ditulis oleh Kang Parid

…”Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik.”  – Surat Yusuf.

Gus Mul, aku tahu apa rasanya menjomblo sepanjang kurun dua dekade, ditambah 3 tahun. Aku juga paham Gus, apa rasanya ketika membuka inboks sms isinya hanya seputar teman yang meminjam uang, atau pengumuman undian mobil palsu. Atau yang lebih pedih; pemberitahuan kuota internet.

Gus, aku juga tahu kalau kamu yang katanya sedang dikejar-kejar perempuan itu malah bertambah gelisah mempertanyakeun; apakah kamu dikejar-kejar karena memang terkenal, atau karena memang dia kasihan.

Memang tidak bisa dipungkiri jika kesepianmu secara tidak langsung sudah menambahkan khazanah kedukaan dan kengenesan bagi bangsa Indonesia ini.

Tetapi janganlah sedih hanya karena kamu tidak ngganteng dan kemudian kamu tidak laku-laku. Sebab di jaman dulu kala ada sosok lelaki yang sangat laku dan sangat ganteng, tapi malah lebih sedih kisah hidupnya (walaupun kemudian happy ending).

Tebaklah siapa dia. Sayyidina Yusuf As. Gus! doi bukan tokoh sembarangan. Dia adalah tokoh utama dalam kisah kasih paling dramatis yang pernah ada dalam Al-Quran. Gus Mus pasti sudah tidak asing kan?

Waktu kecil, ia dilempar ke sungai oleh saudara-saudaranya sendiri, lantaran iri. Kemudian nasib menjadikannya hamba sahaya yang diperjualbelikeun. Seolah ini semua belum tjukup (setelah dia dilempar dan kematiannya dipalsukan oleh sodara-sodaranya sendiri!)

Pun ketika dia beranjak remaja. Disaat ketampanannya semakin ranum, eh, dia malah dipenjara. Dikriminalisasi oleh Siti Zulaikha yang saat itu sedang kalap dan lalai. Dan jangan lupa, Siti Zulaikha adalah salah seorang perempuan tjakep dan kaya yang sangat menyukai Yusuf As.

Bayangkan Gus, (dan semua Gus gus yang lain). Penderitaan-penderitaan ini dia dapatkan bukan karena dia seperti kita-kita yang rupa dan isi kantongnya sama ngerinya. Jutru Yusuf As ini ganteng dan disukai banyak orang. Memangnya seganteng apa Yusuf As? Uh, parah. Tapi biarlah saya kutipkan salah satu ayat dari surat Yusuf.

“…(Zulaikha) mengundang wanita-wanita itu dan disediakannya bagi masing-masing mereka tempat duduk, dan sebuah pisau (untuk memotong jamuan). Kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”.

“Maka tatkala wanita-wanita itu melihat Yusuf, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya. Tanpa sadar mereka sampai melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna tuhan, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ia lebih mirip malaikat yang mulia”.

Lalu apa, Gus? Seperti yang kamu tebak. Yusuf As. malah tertekan dengan eksistensi dan popularitasnya. Dia galau karena banyak fans, Gus. Sekali lagi. Dia galau. Bukan karena dia susah dapat pacar Gus, tapi justru karena hampir lusinan wanita-wanita di Mesir menginginkannya. Lalu apalah kita ini Gus?

Gus, bukan maksud saya sok meng-ustadzi. Lagipula Gus Mul pun tidak tampak putus asa dengan kengenensan-kengenesannya selama ini. Justru Gus membuat kengenesan itu menjadi sebuah olahan karya dan kebaikan –Meski hal itu tidak berhasil menutupi betapa inginnya Gus mempunyai seorang kekasih.

Mungkin, Gus Mul mencoba menutupi semua kengenesan dengan kalimat terkenal “Rokok kretek di tangan kiri, kopi hitam di tangan kanan, tinggal jodoh yang masih di tangan Tuhan. Tapi, Gus, saya yakin jika sepi pun mampu mengoyak hatimu, kan?

Namun saya hanya ingin menguatkan Gus. Bahwa happy ending adalah hak bagi setiap orang yang sabar dan teguh dengan penantian. Seperti kata Yusuf As. (ketika akhirnya dia menjadi seorang raja Mesir) dalam ayat yang lain.

Ia berkata (kepada saudara-saudaranya yang dulu pernah melemparkannya ke sumur) : “Akulah Yusuf dan ini saudaraku (Bunyamin). Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan balasan baik orang-orang yang berbuat baik.”

Hampir sama persis seperti yang sering sampean kutip Gus. “Semua akan indah pada waktunya.”

Wassalam Gus Mul. Salam ketjup.

Tentang Penulis

Kang Parid

Kang Parid

Akang kamu banget. Kadang Blogger | Desainer Grafis | Mufassir Perasaan | Move-On-er Ulung |

  • maria handayani

    LIVECHAT P`0`K`E`R`V`1`T`A
    ? BBM : D.8.E.B.7.E.6.B
    @